Rabu, 23 Februari 2011

Sebuah perpisahan


Datangku tuk berkunjung, terlihat elok ini tempat singgah.

Sebuah tempat sederhana nan tenang tanpa ada gangguan.

Terlihat jauh dari bahaya yang mengintai.

Sosok yang susah tuk dijangkau, tapi sangat menantang untuk ditempati.

Pernah terpikir tuk menetap disini, tapi sangkarku terlalu sayang tuk ditinggal.

Sangkarku sangkar kecil.

Tapi terasa istana tuk hati yang gundah gulana.

Terasa tiap hari adalah suara bahagia.

Tawa canda selalu menggema diujung jalan.

Semua selalu ada di sini.

Terasa kerajaan nan jaauh dari kesengsaraan, penuh bahagia kami tinggal.

Semua selalu ada, selalu ada bagai peri.

Indah rupa, indah langkah, semua selalu terbayang bahwa mereka selalu ada untuk kita.

Terlalu indah tuk mulai menjauh.

Tapi semua jadi sesak.

Enggan yang lain tuk menjauh, hidup jadi sesak.

Generasi penerus, harus jua merasakan sangkar ini.

Tak apalah, aku yang jauh.

Tak apalah niat tuk berbagi.


Akhirnya ulir ini jadi juga tuk ditempati.

Ulir nan jauh dari rumah.

^^

Senyum itu mengembang untuk pertama.

Senyum itu menyambut diri dengan terbuka.

Tangan ini terasa sangat disambut dengan lembut.

Semoga ulir ini, sejalan dengan apa yang ada sebelumnya.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar